Ingatlah Allah Sampai Kamu Gila

Ingatlah Allah Sampai Kamu Gila

Kamarnulis.com – Dewasa ini, dunia luar sering memandang pesantren dengan kacamata yang sempit. Mereka melihat kedisiplinan sebagai penindasan, penghormatan sebagai feodalisme, dan pengabdian sebagai bentuk perbudakan. Padahal bagi kami, para santri, semua itu bukanlah bentuk tunduk tanpa makna, melainkan latihan jiwa untuk menata hati dan akhlak.

Jika feodalisme berarti mengkultuskan manusia, maka pesantren justru menentangnya. Kami tidak memuja kiai sebagai penguasa, tetapi menghormatinya sebagai perantara ilmu dan pembentuk karakter — mata rantai yang menghubungkan kami kepada Rasulullah ﷺ, para pewaris Anbiya.

Sejak awal kami, para santri, telah memahami firman Allah:

ما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم
“Tidaklah musibah menimpa kalian melainkan disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.”
(QS. Asy-Syura: 30)

Karena itu, kami sadar betul bahwa introspeksi, muhasabah, dan evaluasi untuk perbaikan diri adalah hal yang penting. Kesadaran itu sudah tertanam dalam jiwa kami sebagai santri. Ketika terjadi sesuatu, hal pertama yang kami pikirkan adalah memperbaiki diri.

Adapun mereka yang berkomentar buruk tentang pesantren dan segala perangkatnya, bisa jadi memang bukan santri. Mereka belum mengenal pesantren, tapi tidak mampu menjaga mulut dan jarinya. Bisa pula mereka belum menemukan manfaat sejati dari pesantren, atau memang sedari awal sudah menyimpan kebencian terhadap dunia pesantren dan kini menemukan momentumnya.

Baca juga : Kado dari Trans7: Luka untuk Pesantren di Hari Santri Nasional

Orang yang benci akan merasa bebas berbicara buruk tentang yang dibencinya, sebagaimana orang yang mencintai bebas memuji yang dicintainya. Semanis madu akan tetap terasa pahit di mulut orang yang sakit.

Jika mereka bilang kami para santri “mabuk agama” karena percaya pada hal-hal yang tak kasatmata — seperti keberkahan dari seorang kiai — maka biarlah. Ya, kami yang dianggap gila oleh kalian ini adalah orang-orang yang sejak awal memang dibangun untuk percaya kepada segala sesuatu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

وعين الرضا عن كل عيب كليلة كما أن عين السخط تبدي المساوي
“Pandangan mata yang penuh keridhaan akan menutupi segala aib, sebagaimana pandangan mata yang penuh kebencian akan menampakkan segala kekurangan.”

Maka, teruslah mengingat Allah — hingga orang menyebutmu gila. Karena kegilaan yang lahir dari cinta kepada Allah bukanlah aib, melainkan tanda warasnya hati di tengah dunia yang kehilangan arah.

Ditulis oleh : KH. Ali Sibro Malisi