OPINI – Belakangan ini, perceraian menjadi pemandangan yang makin biasa. Media sosial ramai membicarakannya, dari kalangan selebriti, pejabat, sampai orang biasa. Seolah-olah pernikahan kini tidak lagi dimaknai sebagai janji seumur hidup, melainkan kontrak perasaan yang bisa dibatalkan sewaktu-waktu. Di satu sisi, perceraian adalah hak; di sisi lain, ia juga cermin dari betapa rapuhnya kesetiaan di zaman yang serba cepat ini.
Banyak orang bercerai bukan karena tak cinta, tapi karena tak kuat menghadapi realitas. Cinta memang manis, tapi hidup bersama membutuhkan lebih dari sekadar rasa. Ada tanggung jawab, pengertian, dan kesediaan untuk tumbuh bersama dalam badai dan panas. Ketika cinta tidak lagi kuat menopang beban kehidupan, rumah tangga pun runtuh, dan dua orang yang dulu saling memuja kini menjadi asing.
Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak pernikahan lahir tanpa kedewasaan berpikir. Orang menikah karena tekanan sosial, karena umur, atau karena takut sendiri. Padahal pernikahan, seperti halnya hidup, adalah perjalanan yang menuntut kesadaran penuh—bukan sekadar pengulangan tradisi atau pelarian dari kesepian. Mungkin di sinilah letak persoalannya: kita terlalu ingin dicintai, tapi jarang belajar untuk mencintai dengan benar.
Menariknya, dalam sejarah pemikiran dunia, ada banyak filsuf besar yang memilih untuk tidak menikah. Mereka bukan anti cinta, tapi menyadari bahwa kebahagiaan dan kedalaman hidup tidak selalu harus hadir dalam bentuk pasangan. Mereka percaya bahwa kesendirian bisa menjadi ruang untuk berpikir, menemukan makna, dan memahami diri tanpa kebisingan emosional. Bagi mereka, cinta terbesar adalah cinta pada kebenaran dan pengetahuan.
Kesendirian yang dipilih dengan sadar bukanlah kesepian. Ia adalah bentuk kebebasan batin, di mana seseorang tidak bergantung pada validasi orang lain untuk merasa utuh. Tapi tentu saja, tidak semua orang bisa sampai di tahap itu. Sebab butuh keberanian luar biasa untuk hidup tanpa sandaran emosional, dan tetap merasa cukup dengan diri sendiri. Dalam dunia modern, konsep ini mungkin terdengar dingin, tapi bagi sebagian orang, inilah bentuk cinta paling tinggi—cinta tanpa syarat, tanpa kepemilikan.
Sementara di sisi lain, banyak pasangan yang menikah tapi justru kehilangan dirinya sendiri. Mereka hidup dalam rutinitas, berkompromi dengan rasa sakit, dan menutupi luka demi status. Kadang-kadang, perceraian justru menjadi bentuk kejujuran—tanda bahwa dua jiwa sudah tidak bisa lagi tumbuh bersama. Namun, jika perceraian hanya menjadi tren karena ego dan keinginan instan, maka kita sedang menuju zaman di mana kesetiaan hanya hidup dalam kata, bukan dalam laku.
Fenomena perceraian juga membuka pertanyaan mendalam: apakah manusia masih percaya pada cinta yang abadi? Atau kita hanya mencari kenyamanan sesaat di tengah dunia yang penuh tekanan? Di era digital ini, keintiman sering kalah oleh notifikasi, dan perhatian bergeser dari pasangan ke layar. Akibatnya, hubungan kehilangan keheningan yang dulu menjadi dasar kedekatan.
Mungkin, kita perlu belajar dari para pemikir yang hidup dalam kesunyian. Bukan untuk menolak cinta, tapi untuk memahami bahwa cinta sejati tidak selalu berarti memiliki. Terkadang, mencintai juga berarti melepaskan. Dan dalam melepaskan, seseorang bisa menemukan dirinya kembali—lebih utuh, lebih sadar, dan lebih damai.
Perceraian bukan akhir dari cinta, tapi mungkin akhir dari ilusi tentang cinta. Ia mengingatkan bahwa hubungan manusia tidak bisa hanya dibangun di atas janji manis, tapi harus bertumpu pada kesadaran dan tanggung jawab. Kesadaran bahwa dua manusia adalah makhluk yang tumbuh, berubah, dan tak selalu bisa seirama.
Pada akhirnya, baik menikah maupun tidak, bahagia atau sendiri, semua hanyalah pilihan jalan menuju kedewasaan. Ada yang menemukan makna lewat kebersamaan, ada yang menemukannya dalam kesendirian. Yang penting bukan statusnya, tapi sejauh mana kita mampu memahami diri sendiri, sebelum berjanji mencintai orang lain.
Ditulis oleh Tam Lihe. Sebagai bahan renungan untuk mereka yang akan memasuki jenjang Pernikahan termasuk si Penulis.
