Kamarnulis.com – Perdebatan antara modernitas dan tradisi sering kali mencuat ketika dua dunia itu saling berhadapan di ruang publik. Pesantren, sebagai institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia, kerap menjadi sasaran salah tafsir oleh media modern. Dalam upaya menyoroti sisi human interest, tak jarang makna-makna spiritual dan kultural di balik kehidupan pesantren direduksi menjadi sekadar tontonan. Di sinilah pentingnya membaca ulang narasi yang muncul di balik tayangan televisi yang menyinggung soal “feodalisme” di dunia pesantren.
Saat Tradisi Disalahpahami
Kontroversi kembali mengemuka ketika program Xpose Uncensored yang tayang di Trans7 menampilkan potongan kehidupan pesantren dengan narasi yang keliru. Adegan santri berjalan jongkok, memberi amplop, hingga membantu pekerjaan rumah kyai ditampilkan sebagai simbol feodalisme — seolah pesantren adalah ruang ketundukan sosial. Tayangan ini memantik gelombang kritik dari berbagai kalangan, terutama dari masyarakat pesantren dan akademisi Islam.
Namun di balik reaksi itu, ada persoalan yang lebih dalam: kegagalan memahami makna adab dalam tradisi pesantren. Relasi antara kyai dan santri bukanlah relasi kuasa, tetapi relasi ilmu dan spiritualitas. Menganggapnya sebagai bentuk feodalisme adalah kekeliruan konseptual sekaligus reduksi makna moral yang mendasari pendidikan Islam di Nusantara.
Adab Bukan Feodalisme
Feodalisme, dalam konteks sejarah Eropa, adalah sistem sosial yang berbasis pada kepemilikan tanah dan dominasi kelas atas terhadap rakyat. Relasi ini menciptakan ketergantungan ekonomi dan pembatasan sosial yang menindas. Tetapi, relasi kyai dan santri tidak lahir dari sistem seperti itu.
Dalam tradisi pesantren, santri menghormati kyai bukan karena kekuasaan, melainkan karena kesadaran spiritual. Ini disebut adab — etika yang menempatkan guru dan ilmu pada posisi yang dimuliakan.
“Penghormatan santri terhadap kyai adalah penghormatan terhadap ilmu, bukan bentuk penaklukan sosial.”
Adab menjadi fondasi pendidikan Islam yang membentuk keikhlasan, kerendahan hati, dan rasa hormat terhadap pengetahuan. Dalam kerangka ini, pesantren berfungsi bukan sebagai hierarki sosial, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter moral.
Relasi Ilmu, Bukan Relasi Kuasa
Jika dilihat dari perspektif filosofis, hubungan kyai dan santri menyerupai rantai sebab-akibat (causa–effectus). Kyai berperan sebagai sebab aktif yang menanamkan ilmu dan nilai, sedangkan santri menjadi akibat produktif yang melanjutkan dan menyebarkan ilmu tersebut kepada generasi berikutnya.
Dengan kata lain, setiap santri yang berilmu kelak menjadi kyai baru bagi murid-muridnya. Inilah rantai pengetahuan yang terus berputar — bukan rantai dominasi. Pesantren berjalan dalam paradigma reproduksi makna, bukan kekuasaan.
Kegagalan Hermeneutik Media
Kesalahan paling mendasar dari tayangan Trans7 bukan hanya pada konten, tetapi pada cara membaca simbol budaya. Dalam ilmu tafsir budaya (hermeneutika), setiap tindakan dan simbol memiliki makna yang hanya bisa dipahami dalam konteksnya.
Sayangnya, simbol-simbol pesantren seperti berjalan jongkok, memberi amplop, atau membantu kyai ditafsirkan melalui kacamata modernitas sekuler — yang menilai semua bentuk penghormatan vertikal sebagai bentuk penindasan.
Padahal dalam konteks pesantren:
- Berjalan jongkok adalah bentuk kesopanan.
- Memberi amplop adalah simbol sedekah dan syukur.
- Mengabdi kepada kyai adalah latihan spiritual untuk membentuk kesabaran.
Dengan mengabaikan konteks ini, media terjebak dalam reduksi makna, menjadikan spiritualitas tampak seperti ketundukan. Ini menunjukkan perlunya etika kultural dalam jurnalisme, yakni kesadaran bahwa tidak semua nilai budaya dapat dibaca dengan kacamata modern tunggal.
Baca juga : Kado dari Trans7: Luka untuk Pesantren di Hari Santri Nasional
Dampak Kultural dan Sosial
Labelisasi “feodalisme pesantren” membawa dampak sosial yang serius:
- Distorsi persepsi publik. Pesantren dilihat sebagai institusi tertutup dan kolot.
- Dekonstruksi nilai moral. Adab dianggap tidak relevan di zaman modern.
- Erosi kepercayaan publik terhadap media. Ketika media gagal memahami konteks kultural mayoritas, ia kehilangan fungsinya sebagai jembatan sosial.
Pesantren selama ini menjadi pilar pendidikan dan moral bangsa. Menyederhanakannya dalam narasi feodalisme bukan hanya merugikan santri, tapi juga memiskinkan pemahaman kita tentang akar spiritual masyarakat Indonesia.
Menyadari Tanggung Jawab Media
Media memiliki peran strategis sebagai penyampai pengetahuan publik. Namun peran ini menuntut tanggung jawab epistemik — memahami apa yang disampaikan, dan bagaimana hal itu memengaruhi cara masyarakat berpikir.
Trans7, dalam kasus ini, bukan hanya berutang klarifikasi, tetapi juga introspeksi. Media seharusnya menjadi ruang reflektif, bukan ruang reproduksi stereotip.
“Setiap narasi tentang budaya adalah ujian bagi moralitas media.”
Mengembalikan Makna Adab
Pada akhirnya, relasi kyai dan santri adalah relasi yang dibangun di atas cinta, ilmu, dan adab. Ia bukan hierarki, melainkan harmoni. Narasi feodalisme yang dilekatkan pada pesantren adalah bentuk kesalahpahaman yang lahir dari ketidakpekaan epistemik terhadap tradisi.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi media: bahwa kebebasan berekspresi tidak boleh mematikan rasa hormat. Dalam masyarakat yang beradab, kritik pun harus disampaikan dengan pemahaman — bukan dengan prasangka.
Di era informasi yang serba cepat, memahami budaya memerlukan ketelitian dan empati. Pesantren bukanlah sisa feodalisme, melainkan benteng nilai yang menegakkan martabat ilmu dan adab. Jika media ingin menampilkan wajah pesantren, maka ia harus datang bukan dengan kamera penghakiman, tetapi dengan mata yang ingin belajar.
Ditulis Oleh : Moch. Alvinsyah
